Desa Rawasari dan Makarti Jaya terletak di Kecamatan Pulau Hanaut, kita mesti menyebrangi sungai Mentaya untuk sampai ke sana, hanya butuh beberapa menit dengan kapal air “kelotok”. Dua desa ini adalah daerah transmigrasi sejak tahun 90 an, letaknya sekitar 1 km dari bantaran sungai mentaya dengan jenis tanah gambut tampaknya butuh energi besar masyarakatnya agar tanaman bisa tumbuh dengan baik. Komoditas padi mereka tanam mendekat sungai mentaya dengan jenis tanah yang agak bersahabat sehingga potensinya bagus, apabila kelak bisa terbuka maka buan tidak mungkin sepanjang daerah Handil sohor, Handil bali dan kedua desa ini muncul sebagai kawasan sentra produksi padi. Namun butuh kerja ekstra mereka dan dukungan dari instansi terkait dalam hal ini Dinas pertanian dan Peternakan Kab. Kotim. Selain komoditi padi, jagungpun tumbuh baik di lahan mereka yang masam, tentunya dengan pupuk kandang dan dolomit sebagai senjata utamanya. Kedele juga bisa mereka usahakan, namun masih dipanen dalam bentuk segar sebagai makanan camilan yang direbus dan dijajakan oleh pedagang keliling.
Kalau kita berkeliling dihalaman rumah tumbuh subur aneka tanaman buah, kelapa dan pohon pelindung lainnya, bergerak ke ladang tampak hijau karet yang mulai mereka tanam dan yang sudah umur 2 tahun keatas, namun tak kalah hijaunya adalah lahan tidur he he he…yah butuh banyak mas untuk mengusahakannya, tapi kataku modal utamanya tekad dan niat lebih baik lagi keduanya…akur pak tani ya . Seperti pak Sukarni Petani Andalan didaerah tersebut sudah merasakan nikmatnya jeruk keprok hasil tanamanya sejak 4-5 tahun yang lalu, dengan harga 4.000/kg dan sekali panen bisa 2 ton, rutin katanya bisa petik beberapa kali karena jeruknya terus muncul buah dengan perawatan yang baik dan pemupukan berimbang NPK dan Power Nutirisinya Nasa.












kangen ke babaluh by:didik jalur 4 lama
Oleh: didik on 15 April 2012
at 13:36
Aku suka karo sampean kabeh..
Oleh: Ai..Po,kbr ny..Wong makarti wes panen durong...Aku melok seneng on 14 Desember 2009
at 22:57