Oleh: wongtani | 6 September 2009

Gambut yang Mudah Terbakar!!!!

Lahan gambut (kadang-kadang disebut rawa gambut) terbentuk dimana tanaman-tanaman yang tergenang oleh air terurai secara lambat. Gambut yang terbentuk terdiri dari berbagai bahan organik tanaman yang membusuk dan terdekomposisi pada berbagai tingkatan.
Ciri-ciri khas dari suatu lahan gambut adalah kandungan bahan organiknya yang tinggi (lebih dari 65%). Gambut yang terbentuk dapat mencapai kedalaman lebih dari 15 m.
Dalam kondisi alami yang tidak terganggu, lahan-lahan gambut mempunyai fungsi-fungsi ekologi yang penting; mengatur air didalam dan di permukaan tanah. Dengan sifat-sifatnya yang seperti spon, gambut dapat menyerap air yang berlebihan, yang kemudian secara kontinyu dilepas perlahan-lahan. Hal ini menyebabkan air akan tetap mengalir secaran konsisten dan karena itu menghindari terjadinya banjir dan juga kekeringan. Lahan-lahan gambut merupakan areal ‘penyimpan’ karbon yang sangat penting.
Setiap tahun jutaan orang di Asia Tenggara menderita akibat polusi asap yang menyesakkan. Polusi asap menjadi penyebab dari sepertiga dari kerugian ekonomi total akibat kebakaran hutan pada tahun 1997/98 yang mencapai 800 juta US$. Secara politis, polusi asap lintas-batas yang merugikan negara-negara tetangga telah menjadi isu yang sangat kontroversial.
Data-data dan penelitian yang baru menunjukkan bahwa 60% dari polusi asap di Indonesia, termasuk emisi karbon, berasal dari kebakaran di lahan-lahan gambut yang menutupi hanya 10-14% dari daratan Indonesia. Karena itu, mencegah terbakarnya lahan-lahan gambut tersebut akan sangat mengurangi polusi asap. Pencegahan kebakaran menjadi semakin penting karena pemadaman kebakaran di lahan gambut sangat problematis. Cara
terbaik untuk mencegah kebakaran di lahan gambut adalah dengan cara mengkonservasi lahan tersebut dalam keadaan alaminya karena (setelah terbakar) mereka tidak dapat direhabilitasi dan kondisi alaminya yang ‘tahan api’ tidak dapat diciptakan kembali. Tulisan ini akan meninjau masalah api/kebakaran dan pengelolaannya di lahan-lahan gambut untuk mengurangi polusi asap dan sekaligus untuk mengkonservasi lahan-lahan gambut yang
merupakan suatu ekosistem yang langka. Mereka hanya menutupi sekitar 3% dari luas bumi, namun mengandung 20-35% dari semua karbon yang tersimpan di permukaan bumi. Lahan-lahan gambut tropik, seperti di Asia Tenggara, mempunyai kapasitas penyimpanan karbon yang sangat tinggi (3-6 kali lebih tinggi daripada lahan-lahan gambut di daerah beriklim sedang). Mereka juga sangat kaya akan keanekaragaman jenis hayati dengan banyak jenis yang unik dan hanya dijumpai di daerah rawa-rawa gambut.

Mengapa lahan gambut yang biasanya tahan-api terbakar?
Lahan-lahan gambut yang digenangi air tidak terbakar secara alami, kecuali pada tahun-tahun yang luar biasa keringnya. Hal ini ditunjukkan secara tragis selama terjadinya perang Vietnam, dimana hutan-hutan rawa gambut disemprot oleh bahan-bahan kimia dan dibakar oleh bom napalm. Kebakaran-kebakaran yang terjadi kemudian di’tahan’ oleh rawa-rawa gambut alami yang basah.

Walaupun tanahnya miskin hara dan sangat sulit digunakan untuk usaha pertanian skala besar, namun semakin banyak kawasan-kawasan gambut yang dibalak dan dikeringkan. Dalam melakukan kegiatan-kegiatan ini, di kawasan-kawasan tersebut digali kanal-kanal untuk mengeringkannya, menyediakan akses untuk pembalakan, dan untuk meyiapkan lahan bagi usaha-usaha pertanian. Langkah pertama ini bermasalah karena mengakibatkan turunnya permukaan air tanah dan menghilangkan air di permukaan tanah. Irigasi/pengairan di lahan-lahan

pertanian sekitarnya juga dapat menyebabkan turunnya permukaan air tanah. Setelah kering, maka gambut akan kehilangan sifat-sifat alaminya yang seperti spon dan dengan demikian juga kemampuannya untuk mengatur keluar-masuknya air. Lahan-lahan gambut yang kering secara tidak alami sangat mudah menjadi kering. Kebakaran, baik yang disengaja maupun tidak, akan diikuti dengan kerusakan dan kerugian yang proporsional terhadap kegiatan manusia dan tingkat gangguan yang terjadi. Kanal-kanal yang digali memberikan akses terhadap kawasan-kawasan gambut yang dulu tidak tersentuh. Meningkatnya akses manusia memungkinkan terjadinya kebakaran dan kegiatan pembalakan, yang akan mengganggu keseimbangan alami dari ekosistem rawagambut. Beberapa kegiatan-kegiatan tradisional, seperti sistem budidaya padi sonor (dimana padi ditanam di lahan-lahan gambut yang sengaja dibakar pada musim kemarau) dan penangkapan ikan (dimana para nelayan menggunakan api untuk menciptakan akses yang lebih baik dan memperbaiki habitat ikan) juga merupakan sumber kebakaran di kawasan-kawasan gambut. Sehubungan dengan hal ini, risiko kebakaran gambut adalah tinggi karena penangkapan ikan dan budi daya padi sonor sangat penting bagi masyarakat lokal di tahun-tahun yang kering.

Lahan gambut dan kebakaran
Kebakaran di lahan-lahan gambut harus dihindari. Mereka adalah sumber terbesar polusi asap dalam kebakaran-kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Dalam kebakaran-kebakaran besar pada tahun 1997/98, polusi asap saja telah menimbulkan kerugian sebesar 800 juta US$ (akibat terganggunya transportasi, kerugian industri pariwisata, dan meningkatnya biaya-biaya kesehatan).
Terbakarnya kawasan-kawasan rawa-gambut telah merusak beberapa tempat ‘penyimpanan’ karbon terpenting di dunia dan melepaskan sejumlah besar karbon ke udara. Sebuah studi terbaru memperkirakan bahwa karbon yang dilepas selama kebakaran-kebakaran lahan gambut pada tahun 1997/98 sama jumlahnya dengan 13 sampai 40% dari emisi tahunan yang disebabkan oleh pembakaran bahanbakar fosil di seluruh dunia.
Pemadaman kebakaran di areal gambut sangat sulit, mahal dan dapat menyebabkan kerusakan ekologi dalam jangka-panjang. Gambut terbakar diatas dan dibawah permukaan, dan karena itu sulit untuk dipadamkan. Metodemetode pemadaman kebakaran yang mungkin diterapkan juga mahal. Untuk mengendalikan kebakaran di lahan gambut secara efektif, orang harus menggali gambut yang terbakar atau menggenanginya dengan air. Akan tetapi, dalam musim-musim kering (yaitu ketika kebakaran terjadi), air jarang tersedia dan karena itu menggenangi lahan gambut bukanlah suatu opsi yang dapat dilakukan. Beberapa teknik pemadaman kebakaran di kawasan gambut memerlukan adanya penggalian kanal tambahan (sebagai akses ke lokasi kebakaran). Kadang-kadang, air asin juga dipompa masuk untuk menggenangi kawasan tersebut. Kedua teknik tersebut tampaknya menyebabkan degradasi lebih lanjut dari kawasan gambut.
Apabila api di lahan gambut tidak dapat dipadamkan, api tersebut dapat tetap menyala dibawah permukaan dalam waktu yang lama (bahkan tahunan) dan menyebabkan kebakaran baru apabila cuaca menjadi lebih
kering lagi. Api yang menyala dibawah permukaan merusak sistem perakaran pohon. Pohon-pohon tersebut akan menjadi tidak stabil dan kemudian tumbang atau mati. Hal ini akan menghasilkan sejumlah besar pohon mati
atau sisa tanaman, yang akan menjadi bahanbakar yang potensil bagi kebakaran berikutnya.
Secara ekologi, pembakaran rawa-gambut mempercepat rusaknya lingkungan yang unik dan jasa-jasa ekologi yang dihasilkannya (misalnya pengaturan air dan pencegahan banjir). Dalam hal ini, pemilahan antara sebab dan akibat harus dilakukan secara hati-hati. Sebab-sebab dasar dari reduksi keanekaragaman jenis hayati adalah salah pengelolaan dari kawasan-kawasan rawa-gambut serta perencanaan tata-guna lahan yang memungkinkan
terjadinya pengkonversian kawasankawasan tersebut. Kebakaran mengikuti dan memperbesar dampak-dampak negatif dari drainase (pengeringan air) dan mempercepat degradasi kawasan-kawasan rawa-gambut.

Menjadikan lahan gambut tahan kebakaran?
Cara terbaik untuk mencegah kebakaran di lahan-lahan gambut adalah dengan cara mengkonservasi mereka dalam keadaan alaminya dan memberikan perhatian khusus terhadap aspek-aspek pengelolaan air yang baik, pemanfaatan lahan yang sesuai, dan pengelolaan hutan yang lestari. Artinya, drainase/pengeringan dan konversi kawasan rawa-gambut harus dicegah.
Apabila gambut menjadi kering secara berlebihan, mereka akan kehilangan secara permanen sifat-sifat alaminya yang menyerupai spon dan tidak dapat direhabilitasi kembali. Lahan-lahan gambut yang terdegradasi ini harus dikelola untuk mencegah mereka menjadi padang rumput atau semak-belukar yang mudah terbakar secara teratur dan karenanya menjadi sumber kebakaran untuk daerah-daerah sekitarnya. Penggunaan api di kawasan gambut oleh masyarakat lokal hanya dapat dicegah apabila sumber penghidupan alternatif dapat disediakan. Saat ini masih belum jelas apa bentuk sumber penghidupan alternatif tersebut.
Beberapa negara telah menyadari dan memperhatikan berbagai komplikasi sehubungan dengan kebakaran di lahan gambut. Mereka secara khusus telah melarang segala macam bentuk penggunaan api di kawasan-kawasan gambut, namun anehnya tetap mengijinkan pengkonversian dan pegembangan kawasan-kawasan tersebut. Malaysia dan Indonesia adalah negara-negara dimana hukum yang berlaku melarang sepenuhnya penggunaan api di kawasankawasan gambut, namun kegiatan-kegiatan pengeringan/drainasi dan pengembangan masih diijinkan.

By : Morning Hero Blog

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.561 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: