Oleh: Ari Sampit/wongtani | 19 Agustus 2010

Ancaman Krisis Pangan

Merontok padi

Perubahan iklim yang terjadi secara ekstrem telah berdampak negatif terhadap produksi komoditas pangan di dunia. Banyak negara yang produksi komoditas pangannya  mengalami penurunan akibat hasil panen yang buruk yang dipicu oleh perubahan iklim secara ekstrem.

Penurunan produksi komoditas pangan yang paling mencolok terjadi pada komoditas gandum. Sejumlah negara produsen gandum, terutama Rusia, telah mengumumkan produksi gandum negara itu mengalami penurunan drastis.

Akibat penurunan produksi, harga gandum di dunia kini sudah mulai merangkak naik hingga 40%. Bahkan di bursa komoditas dunia, harga makanan pokok tersebut sudah naik berkisar 50%-60%.

Diperkirakan harga gandum akan melonjak lagi menyusul kebijakan yang diambil negara-negara produsen yang lebih mengamankan stok dalam negerinya dengan membatsi atau bahkan menghentikan kegiatan ekspor gandumnya.

Selain gandum, produksi komoditas pangan lainnya, yakni soybean (kedelai) juga ikut terpuruk. Amerika Serikat — negara produsen utama soybean – sudah mengakui adanya penurunan produksi.

Kenaikan harga gandum dan soybean, serta turunannya berupa tepung terigu, perlahan juga akan mendorong kenaikan harga beras yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Tentunya, ancaman krisis pangan itu perlu diantisipasi pemerintah agar kondisi tersebut tidak membuat sengsara rakyat Indonesia.

Memang, pemerintah telah mengungkapkan bahwa stok beras di dalam negeri, baik yang ada di gudang Bulog maupun masyarakat, cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun ini.

Namun, yang jadi masalah, apakah ketersediaan stok itu juga akan diikuti oleh harga jual yang stabil? Kita telah sering mengalami kondisi di mana pemerintah telah menjamin ketersediaan pasokan sebuah komoditas pangan, namun kenyataannya di lapangan, harga komoditas tersebut sulit didapat dan jika didapat pun harga jualnya sudah melonjak.

Lalu, bagaimana dengan komoditas pangan yang selama ini kita masih bergantung pada impor, seperti tepung terigu dan kedelai? apakah pemerintah akan membiarkan kenaikan harga kedua komoditas ini begitu saja?

Karena itu, sebaiknya pemerintah tidak hanya mengeluarkan pernyataan semata, tetapi juga segera mengambil langkah-langkah kongkret untuk mencegah terjadinya kelangkaan pasokan dan lonjakan harga komoditas pangan.

Pemerintah perlu menjamin sistem distribusi bahan pangan bisa berjalan dengan baik sehingga pasokan bahan pangan di suatu daerah bisa terpenuhi dengan baik.

Selain itu, tindakan tegas terhadap para ‘spekulan’ yang mencari keuntungan besar dari kondisi kekurangan pasokan bahan pangan, harus diterapkan oleh pemerintah.

Agar krisis pangan tidak berdampak besar, sebaiknya masyarakat juga diimbau untuk tidak bergantung pada komoditas pangan impor saja. Masyarakat juga perlu diingatkan masih banyak komoditas pangan yang bisa diproduksi di dalam negeri, seperti singkong dan ubi, yang kandungan gizinya tidak kalah dengan komoditas pangan impor.

Seperti yang ditulis di : Agroindonesia


Responses

  1. Menurut saya pak,negara kita memang terancam krisis pangan,bahkan untuk padi,yang katanya surplus.saya pribadi meragukan pernyataan itu,mengingat makin hari lahan padi makin berkurang ditambah lagi,seringnya bencana banjir dan cuaca yang gak menentu yang sebenarnya karena ulah manusia juga.karena itu kalau bisa saran untuk para petani padi jangan buru buru pindah ke kelapa sawit.kalau mau berusaha lebih giat dan tak lupa berdoa saya yakin kita bisa benar benar bisa swasembada beras,bukan hanya di atas kertas.

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: