Oleh: Ari Sampit/wongtani | 28 September 2015

TEKNOLOGI PIKAT NASA PADA TERNAK SAPI POTONG

Berasal dari bahan alami/organik, bukan dari bahan-bahan kimia atau sintetik

Merupakan pakan pelengkap yang berperan sebagai sumber protein, mineral dan vitamin.

Mampu menggantikan pemberian vitamin dan mineral kimia/sintetik

Meningkatkan nafsu makan

Mempercepat adaptasi sapi terhadap pakan, pada saat pertama kali masuk kandang.

Mengurangi kestresan pada sapi, baik pada saat masuk kandang pertama kali, setelah sapi divaksinasi atau saat sapi dalam proses pengobatan

Mempercepat pertumbuhan sapi dengan meningkatkan kuantitas (peningkatan pertumbuhan berat badan harian rata-rata (ADG=Average Daily Gain)

Mengurangi bau kotoran

Meningkatkan kesehatan sapi

Meningkatkan kualitas daging sapi dengan warna lebih merah, padat dan rendah lemak.

 

 

CARA PENGGUNAAN :

Produk yang digunakan : VITERNA, POC NASA, HORMONIK

Kandungan VITERNA, POC NASA, HORMONIK : Protein, mineral, vitamin, lemak, energi yang berasal dari bahan-bahan organik/alami, bukan kimia/sintetik.

Cara pemakaian dan dosis :

VITERNA, POC NASA dan HORMONIK masing-masing 1 botol dicampur menjadi satu larutan terlebih dahulu. Dosis pemakaian : 2 tutup botol campuran 3 produk NASA tersebut per ekor per hari. 1 tutup pada pagi hari dan 1 tutup pada sore hari. Produk NASA tersebut dicampur pada pemberian pakan konsentrat pagi dan sore hari.

Waktu pemberian : Pagi dan sore hari

Iklan
Oleh: Ari Sampit/wongtani | 14 September 2015

BVR, JAMUR SAHABAT PETANI

BVR NASA dengan motonya 3K (Kualitas – Kuantitas – Kelestarian ) memiliki produk teknologi pengendali hama dan penyakit tanaman yang selaras dengan lingkungan yaitu Natural BVR.

Natural BVR efektp dan efisien terhadap hama sasaran, tidak mematikan musuh alami, selaras keseimbangan alam, mudah dan relatif murah, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan,mendukung program pertanian berkelanjutan.  Dengan demikian penggunaan Natural BVR dilahan pertanian diharapkan akan mampu meningkatkan hasil produksi pertanian tanpa membahayakan lingukungan sekitar.

Cara kerja Natural BVR dengan bahan aktif Beaveria bassiana adalah masuk melalui mulut serangga hama, kemudian tumbuh dan berkembang menghancurkan sistem organ hama dari dalam.  BVR yang menempel pada kulit hama dan mengeluarkan enzim (Kitinase, Protease, Lipase) untuk menghancurkan kulit.

Natural BVR juga mengeluarkan racun (Beauviricin,Beauverolides, Asam Oksalat) untuk membunuh hama. Miselium tumbuh secara progresif dan muncul pada badan hama yang mati, jika hama yang terinfeki bersinggungan dengan hama yang sehat, maka hama akan tertulari, penularan dapat melalui angin.  Kematian hama berkisar 4-8 hari setelah terinfeksi BVR.

Natural BVR dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman pada tanaman padi, bawang merah, kacang panjang, cabai, tomat, kubis, buncis, semangka, kentang, apel, mangga, coklat, jeruk dan lain sebagainya.

Adapun jenis hama dan penyakit tanaman yang dapat dikendalikan dengan Natural BVR adalah wereng coklat (Nilavarta sp; Nephotettix sp; Sogatella so.) hama penggerek batang padi (Thryporhiza so ; chilio supressali), kutu daun, kutu dompolan dan penggerek buah coklat.

UNTUK PEMESANAN HUBUNGI ARI SAMPIT DI 081250981098

BVR 4

Oleh: Ari Sampit/wongtani | 8 September 2015

BUDIDAYA JERUK

BUDIDAYA JERUK

JERUK SIAM BANJAR

JERUK SIAM BANJAR ARI SAMPIT

I. PENDAHULUAN
Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 °C dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok, derajat keasaman tanah (pH tanah) adalah 5,5-6,5 . Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Cara generatif
Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air.3.1.2.

Cara Vegetatif
Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA (3-4 tutup/tangki ) + HORMONIK (1 tutup/tangki ).3.1.2.1. Pengolahan Media Tanam
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini: (a) Keprok dan Siem jarak tanam 5 x 5 m; (b) Manis : jarak tanam 7 x 7 m; (c) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m; (d) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m; (e) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m; (f) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.
Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan.
Pengembangbiakan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).

3.1.2.2. Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan: (a) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan; (b) Pengurangan akar; (c) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditanam, siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata dengan dosis ± 1 tutup POC NASA per liter air setiap pohon. Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 2  botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap
1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi disiramkan setiap pohon.
Beri mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

IV. PEMELIHARAAN TANAMAN
4.1. Penyulaman
Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
4.2. Penyiangan
Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
4.3. Pembubunan
Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
4.4. Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
4.5. Pemupukan Susulan

Umur
(tahun)
Dosis Pupuk Makro (gr/pohon)
Urea TSP KCl
1 80 170 170
2 160 325 250
3 250 500 325
4 325 170 425
5 400 210 500
6 500 250 600
7 600 300 700
8 700 325 780
9 780 390 850
10 850 425 900
>10 Sebaiknya dilakukan analisis tanah
Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-3 2-3 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 4-5 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)
>3 3-4 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 3-4 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)

Catatan: Pada umur < 12 bulan,Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 2-3 kali/tahun dosis 2 botol untuk + 200 pohon. Cara lihat pada Teknik Penanaman (Point 3.1.2.2.).Pada umur 12 bulan keatas POP SUPERNASA diganti dengan POWER NUTRITION untuk memacu pembngaan dan pembuahan.
4.6. Penggunaan Hormonik
Hormonik dapat diberikan terutama setelah tanaman berumur 2 tahun, atau diberikan sejak awal lebih bagus. Caranya melalui penyemprotan bersama dengan POC NASA (4-5 tutup POC NASA ditambah 1 tutup Hormonik).
4.7.Pengairan dan Penyiraman
Penyiraman jangan berlebih. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
4.8. Penjarangan Buah
Pada saat pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan, bobot buah serta kualitas buah. Buah yang dibuang meliputi buah sakit, tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama dan sisakan hanya 2-3 buah.
V. Hama dan Penyakit
5.1. Hama
a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.
b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian diserang : tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian diserang : daun muda. Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok. Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.
d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian diserang : tangkai, daun dan buah. Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.
e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian diserang : buah. Gejala: lubang gerekan buah keluar getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.
f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil. Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan PESTONA
g. Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian diserang : tangkai dan daun muda. Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis. Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.
h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian diserang : tangkai buah. Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.
i. Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian diserang : buah yang hampir masak. Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah. Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.

5.2. Penyakit
a. CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.
b. Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian diserang : batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.
c. Embun tepung
Penyebab: jamur Oidium tingitanium. Bagian diserang : daun dan tangkai muda. Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
d. Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian diserang : daun, tangkai atau buah. Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
e. Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian diserang : buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam
f. Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae. Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung. Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering. Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam
g. Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga. Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
h. Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian diserang : batang. Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

VI. Panen
Buah jeruk dipanen saat masak optimal berumur + 28-36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.

Oleh: Ari Sampit/wongtani | 6 September 2015

Kemarau 2015

sawah retak

sawah retak

Keamarau di Sampit beruntun, 2014 masih kerasa bekasnya ditambah 2015 sejak juli hingga sekarang (September), kata sebagian masyarakat kepekatan asap agak kurang karena lahan yang terbakar sudah agak bersih karena kebakaran 2014.  Namun tetap saja sesak napas terutama untuk  anak – anak, dan Petani.

Petani sesak napas ?…. akibat kemarau lahan sawah kering tidak bisa di tanami karena debit air sungai di saluran sekunder tak mencukupi untuk di pompa, akibat kemarau petani sayuran juga sesak napas tambah biaya siram dari sumur bor namun ternyata harga sayuran juga murah.

Sesak napas selanjutnya harga komoditi kelapa sawit juga ikut hancur menyusul karet yang sudah 2 tahun mati suri, betul betul tahun penuh ujian buat pelaku agrokomplek dikotaku, namun mereka tetap semangat untuk terus menanam setidaknya sesak napas tidak membuat mereka sekarat.

Tetap semangat petaniku dan tetap bertahan petani Nasaku.

Prakiraan Cuaca Propinsi Kalimantan Tengah

06 September 2015 07.00 WIB hingga 07 September 2015 07.00 WIB

Ibukota Kabupaten Cuaca Suhu
(°C)
Kelembaban
(%)
Kec.
Angin
(km/jam)
Arah
Angin
Pangkalan Bun Berawan 21 – 32 50 – 95 14 Tenggara
Sampit Cerah Berawan 22 – 34 45 – 95 14 Tenggara
Kuala Kapuas Cerah Berawan 22 – 34 45 – 95 14 Tenggara
Buntok Cerah Berawan 23 – 33 50 – 95 11 Barat Daya
Muarateweh Cerah Berawan 23 – 31 50 – 93 12 Timur
Kasongan Cerah Berawan 21 – 33 45 – 93 12 Timur
Kuala Pembuang Cerah Berawan 23 – 34 48 – 96 14 Tenggara
Sukamara Berawan 22 – 34 55 – 95 14 Tenggara
Nanga Bulik Berawan 22 – 33 55 – 95 14 Tenggara
Kuala Kurun Cerah Berawan 23 – 31 50 – 93 12 Timur
Pulangpisau Cerah Berawan 22 – 34 45 – 95 14 Tenggara
Puruk Cahu Cerah Berawan 23 – 31 50 – 93 12 Timur
Tamiang Layang Cerah Berawan 23 – 33 50 – 95 11 Barat Daya
Palangkaraya Cerah Berawan 21 – 33 45 – 96 12 Tenggara

sumber : BMG

Oleh: Ari Sampit/wongtani | 26 Mei 2015

JARINGAN STOKIS NASA KH.745

STOKIS NASA KH.745

1. KH. 745 Sampit Joko Ari P, SP (wongtani) call/SMS/WA/Line/ 081250981098 Pin.Black Berry 53E089C1 WA/LINE 082110791717

2. NASA JAWA TENGAH/ DANA SAFARI, BOYOLALI – JAWA TENGAH HP. 081225999901 Pin.BlackBerry 2B11A003

3. NASA BALIKPAPAN/ UMAR, Balik Papan..Kalimantan Timur HP.08125804830 PIN BB 2B1BEC1F

4. NASA KALIMANTAN BARAT/ ERVIN WELLIM W (TOKO MITRA TANI) KETAPANG KALBAR HP. 081280393683 PIN BB. 22D1D80B

5. MAUN EFFENDI, LAMPUNG HP. 082179848301 dan 07217624297

6. AHMAD RIJALY. BALANGAN KALIMANTAN SELATAN HP. 085248270776

7.. RAMSES LAMPE, KAB. GUNUNG MAS, PALANGKA RAYA, HP. 081394615167 PIN BB 25EEA1F9

8. NASA RIAU/ Arif, Indra Giri Hulu RIAU Hp.081378695222

9. NASA JAKARTA / Jaya Sukarta, JAKARTA HP. 081290226546

10. Affan Jauhari. BENGKULU Hp.082311131100

11. NASA MADIUN MAGETAN / NSAMSUDIN , JAWA TIMUR HP. 085735201096

12. NASA PANGKALANBUN / NURAMRI S. HP 082255528741

13. NASA PALANGKA RAYA / BU AGUS KH.869 HP. 081349180208

14. NASA HONGKONG/ SUNDARI HP/WA : +85251059056

Oleh: Ari Sampit/wongtani | 2 Februari 2015

TANGGUH PROBIOTIK

taprokuTANGGUH Probiotik Peternakan dan Perikanan, Salah satu produk terbaru dari NASA PT Natural Nusantara  yang akan membantu petani dan peternak dalam meningkatkan hasil produksinya secara Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian (K3). TANGGUH Probiotik diformulasikan khusus untuk menyempurnakan proses fermentasi di dalam pencernaan ternak dan ikan sehingga mampu mempercepat proses pertumbuhan.

TANGGUH Probiotik diproses dari bahan-bahan alami murni sehingga aman, sehat dan dapat meningkatkan gizi, cita rasa, dan dapat menekan tingkat kerusakan ternak (palatibilitas). Produk Probiotik Peternakan dan Perikanan ini juga berfungsi meningkatkan kesuburan perairan sekaligus kesehatan udang dan ikan.

Kandungan TANGGUH Probiotik

LACTOBACILLUS SP. 2,5 x 107 cfu/ml
AZOTOBACTER SP. 1,31 x 106 cfu/ml
STREPTOMYCES SP. 2,42 x 106 cfu/ml
SACCHAROMYCES SP. 8m20 x 107 cfu/ml
ASPERGILLUS SP. 1,90 x 105 cfu/ml
TRICHODERMA SP. 2,8 x 105 cfu/ml

Keterangan: Tidak mengandung bakteri merugikan (Patogen)

Dosis Pemakaian Probiotik TANGGUH

TERNAK
  • 2 tutup botol (20cc) per 20 liter air untuk 100 kg (1 kwintal) pakan ternak hijauan/jerami
  • 1 tutup botol (10cc) per 1 liter air untuk 5 kg pakan konsentrat
UDANG 5 – 6 liter / ha
IKAN 3 – 6 liter / ha

Cara Pemakaian TANGGUH Probiotik

PEMAKAIAN UNTUK PEMBUATAN PAKAN TERNAK

  1. Bahan dicacah hingga berukuran 5 cm lalu ditumpuk setebal 20 cm, siramlah dengan larutan TANGGUH Probiotik sesuai dosis di atas, kemudian taburkan bekatul.
  2. Tumpuk lagi bahan di atasnya dan ulangi prosedur yang sama terus menerus hingga mencapai ketinggian 1 meter.
  3. Tutup rapat 1-3 hari
  4. Buka dan keringkan sebelum diaplikasikan ke ternak

Untuk menyempurnakan proses pencernaan dan metabolisme dalam tubuh ternak, aplikasikan juga penggunaan VITERNA.

PEMAKAIAN UNTUK KOLAM UDANG & IKAN

  1. Larutkan TANGGUH 2-3 liter bersamaan dengan TON (Tambak Organik Nusantara) dengan air secukupnya, lalu siramkan merata ke tanah dasar tambak/kolam pada tahap persiapan lahan (belum ada air)
  2. Larutkan TANGGUH 0,5 liter dicampur air secukupnya lalu siramkan merata ke air tambak/kolam setiap 2 minggu sekali (bersamaan dengan aplikasi TON) selama 6 kali mulai umur 21 hari

PEMAKAIAN UNTUK PAKAN UDANG & IKAN

Larutkan 5 cc (0,5 tutup botol) TANGGUH dan 10 cc VITERNA dalam air secukupnya untuk dicampur dengan 8-10 kg pakan udang/ikan

Oleh: Ari Sampit/wongtani | 22 November 2014

VITERNA PLUS ORGANIK SERBUK

VITERNA SERBUK

Menjawab Tantangan Distribusi Produk dengan update teknologi, Nasa memang yess,,

Viterna plus organik serbuk dihadirkan untuk menjawab tantangan pasar yang ada, jika sebelumnya hadir Viterna Cair dengan kualitas yang sudah teruji dan terbukti, maka produk ini adalah bentuk lain Viterna Cair Cair dengan kualitas dan keunggulan yang sama dengan produk cairnya Ungkap Bapak Fahmi Rosyadi Faros Konsultan PT.Nasa.

Hadir disaat ulang tahun ke 12 PT. NASA, membuktikan bahwa PT Natural Nusantara selalu berinovasi, dan menjawab kebutuhan pasar serta selalu update teknologi yang menjadi bagian penting dalam mensupport pengembangan bisnis Nasa. Sebagai perusahaan internasional harus senantiasa menjawab tantangan pasar guna memenangkan kompetisi ” jika pengiriman antar pulau dan antar negara terkendala dalam bentuk cair maka kita sekarang sudah hadirkan dalam bentuk serbuk agar pengirimannya menjadi lebih mudah”

Untuk dosis pemakaian Viterna Serbuk ini hampir sama dengan Viterna Cair, jika satu liter air dapat dicampurkan dengan 2 ml viterna cair , maka Viterna Serbuk dapat dicampurkan 0,5 gram perliter air ( 1sachet/ 50 liter air).  Dari sisi ekonomis pemakaian untuk ternak antara Viterna Serbuk dan Cair tidak akan jauh berbeda, hanya nanti masalah selera saja dan jika Distributor mendapat pesanan Viterna dari daerah yang sulit dijangkau dengan Viterna Cair maka Viterna Serbuk solusinya.

Produk yang resmi kan dilounching bulan Novembr 2014  tersedia dalam kemasan satu box yang berisi 10 sachet Viterna Serbuk dengan masing-masing sachet memiliki berat 25 gram.

Sangat praktis dan mudah dibawa kemana-mana mengingatkan saya dengan saudaranya produk Pupuk Organik Serbuk Greenstar yang sudah terbukti sangat “menjual” di Kota Sampit dan Mendunia.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: